Tidak ada terbersit dalam pikiran sejak kecil menjadi seorang kuli tinta. Dulu cita-citanya sih pengen jadi insinyur yang kerjanya dikantoran. Ketika SD ditanya, apa cita-citamu kelak?. Dengan lantang saya jawab, “Insinyur bu!!! Biar uangnya banyak kerjanya enak lagi,” celoteh ku saat kelas empat Sekolah Dasar.
Namun seiring dengan waktu yang terus membuatku lebih dewasa. Baik dalam pemikiran maupun tindakan. Akhirnya cita-cita itu luntur dan akhirnya menjadi seperti sekarang ini, ya seorang wartawan!!!. Perubahan tersebut bukanlah tanpa alasan, tetapi sudah dengan pertimbangan yang matang.
Sejak sekolah di SMA Kartika Chandra III-1 angkatan tahun 2003, cita-cita itu terbentuk. Kelas II, saya bergabung dalam sebuah organisasi kesenian serta tulis menulis.Disana saya dilatih menjadi seorang reperter sekolah yang kemana-mana mengabadikan moment. Entah itu agenda sekolah, organisasi maupun lain-lainnya. Framing pemikiran dunia jurnalistik sedikit-sedikit mulai terbentuk.
Selain itu, saya pun sedikit aktif dan gaul dengan orang-orang yang menggeluti organisasi pencinta alam. Sering kita bermain maupun kemping sama-sama. Akhirnya pergaulan tersebut membuat saya nyaman hidup di alam bebas, bukan seperti Tarzan loch.
Setelah lulus dari SMA, bingung untuk memilih jurusan menghinggapi kepala. Ujian saringan masuk ke Universitas Negeri gagal total. Otomatis tinggal perguruarn tinggi swasta yang diincar. Saat itu, masih inget dibenak saya ketika pertengahan 2003 lalu. Orangtua memberi saya uang pendaftaran untuk masuk ke STT Telkom.
Pagi-pagi saya sudah berangkat dari rumah yang sedikit nyingceut dari perkotaan menuju STT Telkom. Tetapi ditengah jalan saya pun berpikir kembali untuk mendaftar di sekolah tersebut.
Pintu masuk STT Telkom yang terletak di Jl Bojong Soang pun dilalui dengan mulus dan langsung meluncur kea rah SMA di Jl Taman Pramuka. Di sekolah saya pun ngobrol ngalor ngidul. Tiba-tiba saja salah seorang teman menanyakan tentang kelanjutan pendidikan.”Eh dilanjutin kemanan nih ngomong-ngomong kuliahnya,” tanya teman saya. Otomatis saya yang tengah kebingungan pun menjawab sekenanya. “Duh bingung euy!!!!,” ucap saya.
Akhirnya ia pun melontarkan untuk kuliah di kampusnya. “Gimana kalo ke Stikom yang prospeknya ke depan menjadi seorang jurnalis,” bujuk dia. Setelah ditimang dan dipikir, wah boleh juga tuh ide. Kebetulan sejak SMA memang saya sudah menggeluti jurnalistik nih. Tidak hanya itu alasan yang melatarbelakangi masuk Stikoom. Alasan tersebut ialah saya tidak sudak bekerja didalam ruangan serta saya ingin selalu berkenalan atau bersosialisasi dengan banyak orang.
Otomatis pekerjaan yang nyambung dengan alasan tersebut salahsatunya menjadi JURNALIS. Saya pun memantapkan mendaftar dan menjadi mahasiswa STIKOM Bandung. Perkuliahan demi perkuliahan terus saya ikuti hingga masuk ke semester 3. Sejak awal semester pun alhamdullilah saya mencoba untuk gaul dengan siapa pun termasuk senior. Dari situ mulai mengikuti media kampus dan menginap hingga berhari-hari untuk mengarapnya.
Sekitar di semester tiga saya pun coba-coba untuk bekerja sampingan di media. Mulai dari majalah bulanan remaja, majalah hobi hingga tabloid bisnis dan keluarga di Kota Bandung saya pernah gabung. Pekerjaan tersebut selain memperlebar jaringan serta memperluas wawasan.
Hingga akhirnya di semester V, saya bergabung dimedia harian lokal yaitu Radar Bandung, Groupnya Jawa Pos. Pekerjaan tersebut saya ambil karena jadwal perkuliah sudah mulai renggang. Perkuliahan pun tamat hingga semester enam dan melangkah ke tujuh yaitu penyusunan skripsi terlambat satu semester dibanding teman yang lain.
Tepat diawal Nopember 2007, salahsatu dosen mengultimatum saya untuk menyelesaikan studi tahun ini atau ikut wisuda dua tahun kemudian. Ultimatum tersebut menyadarkan saya untuk kembali menekuni dan menyelesaikan pendidikan. Akhirnya saya mengambil cuti selama satu bulan ke kantor dan diperbolehkan.
Selama waktu sebulan tersebut benar-benar saya ngebut untuk menyelesaikan skripsi. Ternyata waktu yang sebulan tidak cukup untuk menyelesaikan skripsi saya yang lima bab. Saat itu baru Bab III yang saya selesaikan. Sekitar pertengahan Desember saya pun mengundurkan diri dari Radar Bandung yang telah member ilmu sekitar hampir dua tahun itu.
Sisa bab yang tertinggal pun saya kebut dan selesaikan hingga awal Januari 2008. Tepat pada tanggal 18 Januari, skripsi saya yang berjudul FOTO BERITA PERSIB BANDUNG DI HARIAN PAGI RADAR BANDUNG (Studi Deskriptif dengan Teknik Analisis Persepsi terhadap Penyajian Foto Berita Pada Halaman Persib Bandung di Harian Pagi Radar Bandung ) di sidangkan.
Sidang skripsi yang merupakan hari terlelah akhirnya terlewati dengan tidak sia-sia. Penguji mengumumkan bahwa Yugi Prasetyo lulus dengan Yudisium Memuaskan dan IPK 3,2. “Akhirnya ya tuhan apa yang menjadi harapan kedua orangtua ternyata terlaksana dengan baik dan beban itu kini telah terbayar oleh hasil yang memuaskan,” doaku dalam hati seusai pengumuman hasil tersebut.
Tanggal 24 Januari akhirnya saya dikukuhkan menjadi seorang sarjana dengan disaksikan kedua orangutan dan orang yang paling dekat dihati ini. “Tugas saya sudah selesai dan kini tinggal kamu sendiri yang berusaha,” bisik orangtua ketika melihat saya diwisuda. Tuhan saat itu mungkin terlalu baik pada saya. Tidak lama dari wisuda atau tepatnya tanggal 28 Januari, saya diminta datang untuk interview di Koran Seputar Indonesia. Sebelumnya pada masa-masa penyelesaian skripsi, saya pun mencoba melamar ke koran MNC Group itu.
Interview berjalan mulus dan saya pun diberitahu bila lulus nanti akan dikabari dua atau tiga hari. Keberuntungan masih milik saya, 31 Januari SINDO memanggil saya untuk diadakan pembekalan. Pembekalan tersebut berlangsung dua hari hingga Jum’at, 1 Febuari saya diterima menjadi salahsatu bagian dari Koran SINDO. Jum’at petang tersebut pembagian daerah liputan pun digelar.
Saat itu seangkatan dengan saya berjumlah 13 orang. Kantor pusat memilih 9 orang ditempatkan untuk di Bandung serta empat orang lainnya ditempatkan di daerah. Kecemasan tentu selalu meliputi karena takut ditempatkan di daerah yang memang pengalam pertama. Benar saja! Kantor pusat memutuskan saya untuk bertugas di Kota Banjar. Salahsatu kota di Priangan Timur yang baru saya kenal. Kota itu hanya saya lewati ketika hendak ke Pangandaran maupun Jawa Tengah.
Pilihan untuk bertugas ke luar kota pun diterima dengan semangat dan lapang dada. Esok harinya, Sabtu 2 Febuari keluarga dirumah membuat syukuran karena saya telah lulus dan diterima kerja. Namun kebahagian tersebut hanya sebentar, saya pun harus mulai bertugas berangkat ke Banjar Minggu, 3 Febuari dan harus langsung mengirim berita pada Selasa 5 Febuari.
Hingga saat ini saya pun menjadi kulitinta di Kota Banjar yang merupakan kota baru berdiri lima tahun yang lalu. Hari-hari dilewati hanya dengan mencari sejumput informasi yang kemudian disebarluaskan ke seluruh Jawa Barat. Mungkin ini jalan hidupku yang telah digariskan tuhan……
Banjar, tengah malam di tanggal 29 April 2008
Seseorang yang mencari sejumput informasi…..