Hari terakhir Meliput di IPDN

Hari terakhir Meliput di IPDN
Teman Seperjuangan berpose didepan kampus IPDN, hampir tiga bulan kita ngacak-ngacak IPDN karena ada prajanya yang tewas dibarak.

Senin, 28 April 2008

Kangen!!!


Entah mengapa kata itu selalu terbersit hari ini (Sabtu 09/02). Harusnya kata itu saya simpan dalam-dalam. “Kamu harus sabar Gie, ini demi cita-cita dan kemajuan dirimu,” ujar hati ini. Tetapi rasa kangen tersebut tidak dapat disembunyikannya. Saya baru pertama kali jauh dari orang-orang yang ku sayangi. Awalnya tidak ku terlalu pikirkan rasa itu, tetapi semakin lupakan rasa kangen ini, semakin kuat juga ia mengusik hati ku.

Ingin tubuh ini terbang sekejap dan menemui oarang-oarang yang saya sayangi. Mama, papa, adik, kakak dan orang yang paling saya sayangi, ingin rasanya tubuh ini didekat mereka. Tapi apa daya, semua rasa itu harus saya pendam dan simpan dalam-dalam.

Pagi hari ini mendung menggelayuti langit Kota Banjar. Mendung itu pula seperti halnya hati ini. Sepertinya tubuh ini tidak ingin melsayakan apa-apa. Ingin rasanya tetap tertidur di tempat tidur dan mengingat masa-masa bersama keluarga dan orang yang paling berarti dihidup ini. Hampir satu minggu, saya tidak terlalu mempermasalahkan rasa kangen ini. Saya isi dengan kegiatan-kegiatan yang bakal melupakan rasa itu. Tetapi hari ini!, rasa itu semakin kuat mendera hati ini. Ingin rasanya berlari dan keluar dari kenyataan, tapi itu tidak mungkin. Masa ini harus saya lalui dengan seorang diri dibantu dengan dorongan semangat dari mereka yang Saya sayangi.

Terlebih saat kejadian pada Jum’at pagi. Tiba-tiba saja handphone yang saya letakan diatas meja berdering. Saya lihat nomor yang muncul ialah nomor telepon rumahku. “Ada apa yah?” pikir ku. Tak lama, suara diseberang sana tiba-tiba saja mengejutkan hati ini. Ya, suara diseberang sana ternyata mamsaya. Ia tiba-tiba saja menanyakan kabar ku dengan diiringi tangis tanda rasa kangen yang sangat berat. “Gie kamu enggak apa-apa disana, malam tadi mama mimpi dan tsayat kamu terjadi apa-apa disana,” tanyanya sambil menangis lirih. Saya yang menerima telepon pun berusaha tegar dan berkata, “Saya disini baik-baik saja, jangan khawatirkan saya,” ucapku dengan tegar untuk menguatkan hati ibuku. Anak mana yang tidak sedih ketika mendengar ibunya menangis menanyakan keadaannnya.

Ah.... rasa ini harus saya hadapi memang. Tidak dapat saya pungkiri, rasa ini memang berat untuk dihadapi. Namun bagaimana pun juga rasa kangen itu selalu muncul setiap saat. Apalagi hari ini, porsi liputan saya sedikit. Waktu luang saya habiskan di kostan, tetapi bertubi-tubi juga rasa kangen itu mendera hati ini.

Satu-satunya yang dapat mengobati rasa kangen itu hanyalah membuat catatan ini. Mudah-mudahan ini menjadi pengobat rasa kangen yang hebat mendera itu. Untuk kalian orang-orang yang Saya sayangi, doakanlah selalu mudah-mudahan moment-moment seperti ini akan segera berakhir dan kita berkumpil lagi. Amien....

Banjar, Sabtu petang, 9 Febuari 2008.

Tidak ada komentar: